MindAIGold.id — Harga emas kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (29/09). Setelah mengalami koreksi tajam hampir 4% pada sesi sebelumnya, emas spot bergerak di sekitar US$4.125 per troy ounce dan menyentuh level terendah dalam tujuh pekan.

Penurunan harga emas terjadi ketika pasar menghadapi kombinasi tekanan dari kenaikan yield Treasury Amerika Serikat, kekhawatiran inflasi akibat harga energi, serta ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Yield Treasury AS Jadi Beban Harga Emas

Kenaikan yield Treasury AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan emas.

Aksi jual di pasar obligasi Amerika Serikat semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran terkait pembukaan kembali jalur perdagangan energi strategis.

Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi AS naik di berbagai tenor. Yield Treasury 10 tahun bahkan dilaporkan mencapai level tertinggi dalam 19 tahun.

Bagi pasar emas, kenaikan yield menjadi tekanan tersendiri. Emas merupakan aset non-yielding, sehingga ketika imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik relatif logam mulia dapat berkurang.

Ketegangan AS-Iran Tingkatkan Risiko Inflasi

Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan hubungan AS dan Iran, khususnya terkait Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi global.

Penolakan proposal Iran untuk membuka kembali jalur perdagangan energi dalam waktu tujuh hari meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat berlangsung lebih lama.

Jika harga minyak dan energi tetap tinggi, tekanan inflasi global berpotensi meningkat. Situasi tersebut dapat membuat Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Kembali Jadi Fokus

Pergerakan emas sepanjang September juga menunjukkan tekanan yang cukup besar. Harga emas disebut telah turun sekitar 7% sepanjang bulan ini setelah The Fed menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter masih dapat diperketat apabila diperlukan.

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%.

Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan trader XAU/USD karena perubahan ekspektasi suku bunga biasanya dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, yield Treasury, dan harga emas secara bersamaan.

PCE dan NFP Jadi Penggerak Pasar Berikutnya

Fokus investor selanjutnya akan beralih ke sejumlah data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pekan ini.

Data Personal Consumption Expenditures (PCE) akan menjadi perhatian karena merupakan salah satu indikator inflasi yang dipantau The Fed. Sementara itu, laporan Non-Farm Payrolls (NFP) akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat.

Data inflasi dan tenaga kerja yang lebih kuat dari ekspektasi dapat meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Sebaliknya, tanda-tanda pelemahan ekonomi AS dapat mendorong pasar menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Outlook XAU/USD

Dengan kombinasi kenaikan yield Treasury, ketidakpastian geopolitik, risiko kenaikan harga energi, serta penantian data PCE dan NFP, volatilitas XAU/USD berpotensi tetap tinggi dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Area harga US$4.125 menjadi perhatian setelah emas mengalami koreksi tajam. Pasar akan mencermati apakah emas mampu menemukan stabilisasi setelah penurunan tersebut atau kembali menghadapi tekanan apabila yield Treasury dan ekspektasi kenaikan suku bunga terus meningkat.

Bagi trader dan investor, perkembangan yield Treasury AS, indeks dolar, harga minyak, serta data ekonomi AS akan menjadi sejumlah faktor penting yang perlu diperhatikan dalam membaca arah emas berikutnya.