Pergerakan XAU/USD masih berada dalam fase konsolidasi setelah volatilitas sebelumnya meningkat. Pasar kini mencoba menentukan arah berikutnya dengan mempertimbangkan perkembangan geopolitik, tekanan inflasi, serta prospek kebijakan moneter AS. Diplomasi AS-Iran Beri Sentimen Baru ke Pasar Perhatian investor tertuju pada perkembangan hubungan AS dan Iran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan perwakilan Iran di New York berlangsung “sangat baik”. Pernyataan tersebut memunculkan kembali harapan terhadap kemungkinan penyelesaian melalui jalur diplomasi. Sebelumnya, Trump sempat menyampaikan pernyataan yang lebih keras terkait Iran. Perubahan sentimen terhadap hubungan kedua negara turut menjadi perhatian pasar karena perkembangan geopolitik di Timur Tengah dapat memengaruhi pasokan dan harga energi global. Harga Minyak Turun, Prospek Inflasi Kembali Jadi Sorotan Harga minyak kembali mengalami tekanan setelah muncul optimisme terhadap hubungan AS-Iran. Pasar juga merespons laporan bahwa Arab Saudi berencana memulihkan ekspor minyak melalui East-West Pipeline dalam beberapa hari mendatang. Jalur tersebut memungkinkan Arab Saudi mengurangi ketergantungannya terhadap Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Bagi pasar emas, perkembangan harga minyak menjadi penting karena energi memiliki kaitan erat dengan tekanan inflasi. Jika harga minyak kembali naik secara signifikan, inflasi berpotensi bertahan lebih tinggi dan dapat memengaruhi arah kebijakan The Fed. Suku Bunga The Fed Masih Jadi Penentu Arah Emas Selain faktor geopolitik, investor juga memantau komentar pejabat Federal Reserve terkait prospek kebijakan moneter berikutnya. Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Tom Barkin, memperingatkan bahwa tekanan inflasi yang berasal dari gangguan pasokan dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk mereda. Ia juga menyoroti risiko inflasi tetap tinggi dalam periode yang lebih panjang. Namun, Barkin belum memberikan sinyal yang jelas mengenai kebutuhan untuk menaikkan suku bunga kembali. Kondisi ini membuat pasar masih menunggu data ekonomi Amerika Serikat dan pernyataan pejabat The Fed selanjutnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga. Bagi emas, prospek suku bunga menjadi salah satu faktor utama. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga dan dapat memberikan tekanan terhadap emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Impor Emas China Tembus 1.000 Ton Di tengah tekanan dari faktor moneter, permintaan fisik dari China menjadi salah satu penopang harga emas. Data bea cukai menunjukkan impor emas China hingga Agustus telah melampaui 1.000 ton, lebih tinggi dibandingkan total pembelian sepanjang tahun sebelumnya. Kuatnya permintaan dari China menunjukkan bahwa minat terhadap emas fisik masih tinggi meskipun pasar global menghadapi ketidakpastian terkait inflasi dan kebijakan suku bunga. Permintaan tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi membantu membatasi tekanan terhadap harga emas ketika sentimen pasar terhadap logam mulia kembali melemah. Harga Emas Selanjutnya Dipengaruhi Banyak Faktor Pergerakan emas saat ini berada di persimpangan sejumlah faktor penting. Diplomasi AS-Iran dapat memengaruhi sentimen geopolitik dan harga minyak, sementara kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian utama pasar keuangan. Di sisi lain, kuatnya permintaan fisik dari China memberikan dukungan terhadap harga emas. Dengan harga emas yang masih berada di sekitar US$4.361 per troy ounce, pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga minyak, data inflasi AS, komentar pejabat The Fed, serta perkembangan hubungan AS-Iran untuk melihat potensi arah XAU/USD berikutnya.